Artikel

Lebaran, Momentum Kebangsaan Kita

Pendahulu bangsa ini sadar bahwa Indonesia tak mungkin bisa kuat, besar, dan bergema di dunia jika gagal menyatukan kekuatannya.

Apa itu kekuatan Indonesia? Berbeda!. Ya tanpa kita sadari perbedaan itu menjadi kekuatan kita. Kebangkitan bangsa 1908 lahir atas kesadaran perlunya kesatuan di tengah beraneka kekuatan sosial.

Kesadaran politik pemuda 1928 juga tak lepas dari satu tekad bahwa perbedaan bukan halangan anak-anak muda seantero nusantara bersatu menjadi satu.

Berbeda karena fitrah. Bangsa ini terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, bahkan etnis dan suku, termasuk agama dan keyakinan yang dianutnya. Itulah fitrah, anugerah yang semestinya ditempatkan dalam sebuah rasa syukur sebagai rahmat.

Dalam proses pembangunan bangsa, beda menjadi kekuatan. Beda bukan halangan dan beda bukan bibit masalah, apalagi permusuhan. Kenapa negeri ini sepanjang puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun sebelum Indonesia dikumandangkan sebagai sebuah negara yang merdeka, boleh jadi perbedaan itu sudah inheren dengan negeri nusantara ini.

Tidak banyak alasan yang menguatkan mengapa perbedaan itu tak menjadi masalah. Setidaknya dua pijakan yang selama ini menjadi perekat sekaligus penguat soal terawatnya perbedaan ini menjadi kekuatan, bukan malah kelemahan.

Kedua hal tersebut adalah sikap saling menghormati dan saling menerima perbedaan sebagai sebuah rahmat, bukan azab. Sikap penghormatan adalah basis utama perbedaan itu akan terlihat indah, bukan malah sebaliknya terlihat buruk. Selamat sikap saling menghormati atas beda itu terpelihara dengan baik, selama itu pula berbeda akan menjadi kekuatan.

Kemudian sikap kedua adalah penerimaan atas perbedaan. Sikap ini menjadi basis kedua karena terkait paradigma soal perbedaan itu sendiri. Penerimaan akan perbedaan menjadi hulu yang memengaruhi penyikapan kita terhadap perbedaan itu sendiri.

Nah, dalam konteks saat ini, rasanya bangsa ini harus kembali ke khittah. Hijrah kembali pada marwahnya sebagai bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika. Bangsa yang menghargai dan menerima perbedaan sebagai bagian dari sejarah sekaligus pembentuk kesadaran bersama sebagai sebuah bangsa.

Inilah modal sosial bangsa ini yang akhir-akhir ini terkoyak atas kepentingan dan dinamika politik yang terkadang absen menjadikan nilai-nilai kebangsaan kita yang kuat dan dibangun atas dasar perbedaan.

Untuk itu di momen Idul Fitri ini rasanya bangsa ini perlu melakukan hijrah kebangsaan untuk kembali pada fitrahnya sebagai bangsa besar yang dibangun dan diperjuangkan atas tekad satu dan bersama dari berbagai perbedaan yang ada.

Rasanya momen lebaran ini semestinya menjadi pintu bagi para elite politik yang selama ini alpa terhadap upaya penguatan akar kekuatan bangsa ini untuk segera memohon ampun pada bangsa ini jika mereka cenderung absen dan tidak hadir dalam memperkuat kebangsaan di atas perbedaan yang ada.

Hijrah kebangsaan kita menjadi peta jalan yang semestinya dipersiapkan oleh mereka, khususnya para generasi gelombang berikutnya dari bangsa ini. Siapkah anda menjadi bagian dari gelombang calon kepemimpinan bangsa ini ke depan? Harus siap!

*Yohan Wahyu

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top