Artikel

Jokowi atau Prabowo, Siapa Pembawa Harapan?

Setidaknya ada empat alasan orang menentukan kepada siapa dia mempercayakan nasib bangsanya, terutama dalam konteks pemilihan presiden ini.

Pertama, orang memilih karena ketakutan. Ya, dia tidak memilih A karena takut, karena itu dia memilih B. Kita lihat bagaimana kampanye pilpres saat ini sama-sama menebar ketakutan. Pihak Jokowi menebar serangan, jika Prabowo terpilih jadi presiden, ancaman HTI atau Islam garis keras, wahabi di depan mata, bahkan akan mengancam keberagaman dan NKRI.

Sebaliknya, dari kubu Prabowo menebar virus, jika Jokowi terpilih lagi, PKI akan bangkit, bahkan terakhir muncul serangan kampanye hitam, adzan tak akan ada lagi terdengar jika Jokowi kembali jadi presiden. Hhmm…

Kedua, orang memilih karena suka dan merasa terhibur. Ibarat memilih produk, orang memilihnya karena suka saja, lebih menikmati, bahkan terhibur. Kampanye pilpres sekarang rasanya tidak menghibur sama sekali. Kedua kubu terlalu tegang dan menjadikan ajang persaingan dan kompetisi ini ibarat perang. Kubu Jokowi menyebutnya sebagai perang total. Lalu kubu Prabowo menyambutnya dengan doa bak Perang Badar di era Rosullulah.

Jadi, tidak ada hiburan yang bisa dinikmati rakyat sebagai pemilih. Sesuatu yang mungkin di Pilpres 2014 ditemukan dengan masing-masing capres kala itu bikin jingle lagu untuk kampanyenya, bahkan keduanya bikin aplikasi games untuk kampanye. Kini, sesuatu yang ringan dan menghibur itu menghilang. Orang tak akan memilih dengan pertimbangan ini karena memang bahan bakunya tak ada lagi. Padahal, kedua kubu pernah menyampaikan, politik itu harus menggembirakan. Buktinya, keduanya malah menebar ketegangan, jauh dari hal menggembirakan.

Ketiga, Empati. Orang memilih karena merasa empati, simpati dan merasa seseorang perlu diapresiasi karenanya. Terpilihnya Jokowi di 2014 tak lepas dari melonjaknya pemilih berbasis empati ini. Sosok pemimpin yang merakyat, suka blusukan, sederhana, dan wajah ndeso menjadi daya tarik kuat kala itu pada sosok Jokowi.

Bahkan, dengan tagline “Jokowi adalah Kita” seakan menjadi sihir tersendiri bagi pemilih saat itu memandang Jokowi.

Kini, posisi sebagai petahana, ada rasa yang berbeda yang ditampilkan oleh Jokowi. Bobot “Jokowi adalah Kita” terasa hilang, bahkan cenderung “Jokowi adalah Mereka” yang malah menguat.

Empati justru cenderung saat ini lebih didulang oleh Prabowo. Debat kedua yang di atas kertas Jokowi lebih siap dan menguasai materi, justru direspon negatif oleh publik. Data-data yang tidak akurat disampaikan Jokowi menjadi blunder. Sebagai petahana yang menjabat empat tahun sebagai presiden, tentu kesalahan data tak bisa dimaklumi publik.

Apalagi kemudian dibumbui dengan serangan pribadi pada diri Prabowo terkait kepemilikan tanah. Menariknya Prabowo merespon dengan “tantangan” akan bersedia mengembalikan ke negara. Terakhir Jokowi sebagai presiden ditantang untuk segera membuat aturan untuk menarik kembali lahan-lahan yang dikuasai sejumlah nama, tidak hanya Prabowo tapi juga nama-nama lain yang kebetulan lebih banyak di kubu Jokowi. Tantangan itu ditanggapi dingin.

Keempat, Harapan (Hope). Orang tergerak menentukan pilihannya karena merasa seseorang itu memberikan harapan pada dirinya. Dulu di 2014, Jokowi adalah harapan itu, bahkan majalah Time sampai menjadikan Jokowi sebagai sampul utamanya dengan laporan utama berjudul “New Hope”.

Kini, apakah Jokowi masih mengandung harapan? Rasanya harapan itu tidak sebesar di 2014. Ibarat produk, Jokowi sudah dipakai selama 4 tahun dan tentu sebagai konsumen sudah tahu plus minusnya.

Mulai dari target pertumbuhan ekonomi 7 persen tak tercapai, mobil Esemka mangkrak, membeli Indosat tak terbukti, sampai sering absennya Jokowi di forum-forum internasional menjadi rekam jejak yang tertanam dalam memori publik. Tentu ini semua akan menjadi pertimbangan pemilih, apakah masih ada harapan memilih Jokowi?

Apalagi kohesi sosial sejak Pilkada DKI menjadi beban tersendiri bagi bangsa ini. Aspirasi umat Islam, misalnya, tentu mengalami perubahan setelah menguatnya isu kriminalisasi ulama, meskipun isu ini sudah dilawan habis-habisan oleh kubu Jokowi. Puncaknya dengan memilih KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi. Sayangnya, ini tak kuat untuk menahan gempuran isu soal berjaraknya Jokowi dengan umat Islam.

Lalu apakah harapan itu ada di Prabowo? Bisa iya, bisa tidak. Beban masa lalu Prabowo yang selama ini dicitrakan terlibat kasus pelanggaran HAM, meskipun tidak ada putusan hukumpun terkait hal itu, masih menjadi memori kuat di publik. Orang yang konsen di isu ini susah membangun empati untuk memilih Prabowo.

Namun, posisi sebagai penantang tentu memberi harapan tersendiri bagi publik. Bagi pemilih yang penasaran dengan Prabowo, bisa jadi mereka ingin mencoba sosok Prabowo untuk memimpin negeri ini.

Apalagi faktor Sandiaga Uno boleh jadi semakin memperkuat potensi harapan yang dimiliki Prabowo. Hasil survei menangkap sosok Sandiaga lebih memiliki peran menyumbang elektoral kepada Prabowo dibandingkan sosok Maruf Amin ke Jokowi.

Nah, dari keempat alasan di atas, ketakutan, sesuatu yang menyenangkan, empati, dan harapan, rasanya tinggal sisi harapan saja yang tersisa dalam kontestasi pilpres tahun ini.

Tentu menaruh harapan tidak lepas dari sebuah kepercayaan. Siapa yang paling dipercaya pemilih, dialah yang diyakini lebih memberikan harapan.

Apakah harapan itu ada dalam diri Jokowi atau justru ada dalam diri Prabowo. Anda sendiri lebih percaya mana? Jawab dalam hati.

*Abu Janitra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top