Mungkinkah Jokowi Kalah?

Pertanyaan besar yang kini layak diajukan adalah seberapa besar peluang Jokowi memenangi pertarungan dipemilihan presiden tahun ini? Mungkinkah presiden petahana kalah? Deretan pertanyaan ini lahir tak lepas dari segala kegundahan kita yang terjadi akhir-akhir ini. Tentu, kegundahan terbesar boleh jadi dirasakan oleh mereka, para pemuja dan pendukung petahana.

Ada tiga bahan kalkulasi untuk bisa menjawab seberapa besar peluang petahana menang ataupun seberapa besar peluangnya untuk gagal mempertahakan kursi kepresidenannya. Pertama, soal elektabilitas. Mengacu pada sejumlah hasil survei mencatat, jika semua hasil survei digabung dan ditentukan angka rata-ratanya, paling banter tingkat keterpilihan Jokowi berada di angka 55 persen.

Angka di atas tidak cukup aman, apalagi bagi petahana yang memiliki dan menguasai sumber daya kekuasaan. Bayangkan, dia menguasai anggaran, pertahanan, birokrasi, dan tentu jaringan pemerintahan yang mau tidak mau bisa digerakkan untuk kepentingan petahana. Namun, dengan elektabilitas 55 persen rasanya sudah menjadi lampu merah bagi petahana untuk tidak terlalu percaya diri di kontestasi 17 April nanti. Bayangkan, pengalaman pilkada DKI 2017 sudah membuktikan Ahok yang kala itu elektabilitasnya di atas 70 persen saja luluh lantak dan kalah. Mau mengandalkan elektabilitas survei? Saya sarankan kubu petahana berpikir ulang untuk percaya diri berlebihan.

Kedua, petahana banyak memproduksi konten-konten yang justru menggerus elektabilitasnya. Ahok kenapa kalah? Salah satunya adalah kasus Al Maidah. Kasus ini mengegrus lebih tajam setelah sebelumnya diawali dengan gaya koboinya yang sembarangan, ugal-ugalan, kasar, tak juga menggoyahkan elektabilitasnya. Kita lihat sekarang apa yang sudah dilakukan Jokowi? Kasus Al Maidah memang tidak ada. Namun jangan dibayangkan Jokowi akan “bebas” dari penggerusan elektabilitas.

Sejauh ini stigma Jokowi anti Islam, kriminalisasi terhadap ulama, selalu disematkan pada diri Jokowi. Upaya menggandeng KH Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden tak memberikan jaminan Jokowi aman dari stigma tersebut. Hasil sejumlah survei menyebutkan, Ketua MUI non aktif tersebut tidak memberikan insentif elektoral kepada Jokowi. Bandingkan dengan Sandiaga yang lahir bak magnet baru dalam perpolitikan nasional. Sandi justru memberikan sumbangan elektoral pada Prabowo. Pendek kata, kepentingan Jokowi untuk meredam tuduhan antiIslam maupun antiulama tak sukses dibendung. Jokowi sudah terlanjur terstigma. Upayanya membebaskan Ust Abu Bakar Baasyir pun gagal setelah reaksi penolakan muncul dari sebagian besar pengagumnya di media sosial. Belum juga juga terkait mekanisme hukum yang tidak serta merta mudah untuk membebaskan terpidana terorisme tersebut.

Ketiga, aspek kebijakan hukum dan ekonomi dari petahana yang justru banyak melahirkan konten-konten yang mudah dijadikan serangan balik untuk mendegradasi presiden petahana. Lihat saja, selain batalnya pembebasan Abu Bakar Baasyir, sejumlah pengusutan kasus hukum yang begitu cepat kilat seperti kasus Ahmad Dhani, Rocky Gerung, dan masih banyak lagi seperti kasus persekusi Neno Warisman dan para aktifis pegiat #2019GantiPresiden seakan menyimpulkan satu premis : mengkritik rezim boleh asal bukan oposisi!. Bayangkan semua yang diusut dengan cepat adalah mereka yang mengambil jalan berbeda dengan rezim. Bandingkan dengan mereka-mereka yang secara konten juga melakukan hal yang sama tapi tidak diusut secara cepat. Premis sebaliknya berlaku : karena mereka pendukung rezim.

Nah, jika ketiga hal di atas terjadi dan semakin eskalatif, bukan tidak mungkin pertanyaan, mungkinkah Jokowi kalah bisa dijawab dengan mudah : sangat mungkin! Tinggal bagaimana sang penantang mengkapitalisasi isu-isu ini menjadi diferensiasi, efek pembeda dengan petahana. Tagline yang memudahkan bisa dipakai, “Jika ingin melihat ekonomi dan hukum terpuruk, pilihlah petahana, namun jika ingin ekonomi bangkit dan hukum tegak, pilihalah sang penantang”, boleh dicoba buat kubu Prabowo. Lalu bagaimana dengan kubu Jokowi? Hanya ada satu cara, yakni membuktikan bahwa ketiga hal di atas bukanlah sesuatu yang serius dan biasa saja. Nanti, kita buktikan di 17 April!

*Abu Janitra

Post Author: redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *