Prabowo Subianto Vs Joko Widodo

Setelah Jokowi dan Prabowo Tebar Visi Misi

Setelah kedua calon presiden menyebar visi dan misinya, terutama melalui tayangan televisi dan live di sosial media, tentu rakyat bertanya, kepada siapa mereka akan memberikan pilihan politiknya? Hasil survei memang sudah mengkonfirmasi, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden saling berupaya menggenjot elektabilitasnya.

Bagi Jokowi sebagai petahana, kemenangan di Pilpres 2019 mutlak harus diraih. Selain menjadi gengsi politik, kebanggaan menjadi presiden penuh dua periode adalah prestasi bersejarah sendiri bagi siapapun. Sementara bagi Prabowo, inilah palagan terakhirnya. Pilpres 2019 menjadi kesempatan ketiga kali bagi Prabowo untuk berkompetisi politik merebut kursi presiden. Di Pilpres 2009 Prabowo menjadi calon wakil presiden.

Pilpres 2019 tensinya akan semakin meninggi seiring dengan menguatnya sentimen elektoral dari masing-masing pendukung kedua pasangan calon. Pertanyaannya sekarang, apakah ada kemungkinan terjadi pergeseran besar-besaran secara elektoral dari masing-masing kedua kubu? Setidaknya ada dua pendekatan untuk bisa menjawab potensi perubahan tersebut. Pendekatan pertama adalah hasil survei. Jika mengacu pendekatan ini rasanya tidak mudah bagi pasangan penantang bisa menggeser elektabilitas petahana yang selama ini masih menempati posisi tertinggi, rata-rata 48-54 persen jika mengacu pada hasil sejumlah survey.

Jika menghitung sampai hari pemungutan suara 17 April mendatang, artinya kurang lebih tersisa waktu tiga bulan untuk bisa mengubah keadaaan. Tentu di atas kertas peluangnya tidak mudah bagi Prabowo bisa mengalahkan Jokowi. Namun, bukan berarti penantang yang tertinggal jauh dengan petahana tipis peluangnya untuk menang. Pengalaman di pilkada DKI Jakarta 2017 adalah bukti bagaimana jarak atau selisih yang tajam bisa saja lebih pendek, bahkan melewati suara petahana.

Namun, tentu harus diakui jika kubu penantang berharap hal yang sama di Pilkada DKI terjadi di pemilihan presiden, membutuhkan pemicu yang relatif mampu memiliki daya dobrak untuk membuyarakan peta elektoral. Kasus Al Maidah seperti yang menjadi pemicu di Pilkada DKI 2017 efektif menjadi senjata ampuh mengubah konstelasi elektoral dari pasangan calon. Lalu apakah kasus serupa bisa terjadi dan memicu perubahan elektoral di pilpres? Meski tak sebesar dampaknya ketika Al Maidah “mengalahkan” Ahok, pilpres kali ini lebih bertumpu pada permainan emosi dari pemilih.

Kedua pasangan calon sudah memiliki pemilih loyal, bahkan pemilih diehard yang siap bertarung dan mengkampanyekan calon presiden yang didukungnya. Hal ini terjadi di kubu petahana maupun penantang. Jokowi dan Prabowo sama-sama sudah memiliki massa setia, pemilih loyal. Loyalitas mereka tampak dari sikap mereka yang cenderung jatuh cinta pada presiden pilihannya di satu sisi, dan membangun apatisme kepada calon presiden yang tidak dipilihnya.

Pendek kata, jika hal-hal negatif terjadi dan menyangkut presiden yang bukan pilihannya, mereka lebih mudah percaya, meskipun tanpa verifikasi, bahkan dengan cepat membaginya ke sosial media. Sebaliknya, jika berita negatif itu menyangkut presiden pilihannya, mereka langsung pasif, sembunyi maupun buang muka. Kebenaran akhirnya ditentukan tidak pada fakta dan data, tapi elektoral politik semata. Nah, yang menjadi kunci adalah sejauhmana kubu merawat para pemilih ini. Merawat pemilih lama sambil menarik pemilih baru, terutama dari kalangan swing voters akan menjadi kunci sukses dari pendekatan berbasis survei ini.

Kualitas Pilihan

Kemudian pendekatan kedua adalah soal pergeseran perilaku politik yang tidak mudah ditangkap oleh survei. Kasus berbedanya hasil pilkada di Jawa Tengah dan Jawa Barat tahun lalu dengan hasil survei semakin menguatkan dugaan kita bahwa karakter pemilih kita cenderung masih menyembunyikan afiliasi politiknya. Pendekatan ini lebih memasukkan unsur-unsur yang tak mudah disentuh dan digali melalui survei.

Ada semacam wilayah ‘ghaib’ yang tak mudah untuk dipahami tapi mudah dirasakan. Harus diakui berbeda dengan pilkada DKI yang jelas kental politik identitasnya. Di Pilpres kali ini, Prabowo yang didukung ijtima ulama selama ini dipersepsikan sebagai pasangan calon yang dekat dengan kepentingan umat Islam. Sementara pasangan Jokowi-Maruf masih belum kuat dipandang sebagai representasi Islam (politik), meskipun sudah menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Namun, meskipun dipersepsikan dekat dengan umat, pidato kebangsaan Prabowo bertajuk Indonesia Menang malah menguatkan komitmen Prabowo terhadap nasionalisme dan negara demokrasi. Hal inilah yang menarik dicermati. Prabowo yang dipersepsikan dekat Islam dan ulama, wacana yang dikembangkan justru jauh dari politik identitas itu sendiri. Apalagi Sandiaga bukanlah sosok representasi dari tokoh Islam terkemuka seperti halnya KH Maruf Amin.

Inilah pendekatan kualitatif yang menjadi salah satu penentu untuk mencermati peluang pemenang pemilihan presiden nanti. Jika pendekatan pertama menekankan pada sisi-sisi kuantitatif, termasuk elektabilitas hasil survei. Di pendekatan kualitatif ini lebih merujuk seberapa berkualitas pilihan-pilihan politik tersebut. Boleh jadi elektabilitas Prabowo masih jauh di bawah Jokowi. Namun, kualitas pilihan dari pemilih Prabowo bisa-bisa jauh melampaui kualitas pilihan pemilih Jokowi. Jika ini kemudian menjadi komoditas dan diviralkan, bukan tidak mungkin akan menjadi triger bagi lonjakan dukungan kepada Prabowo. Jika tidak, peluang Jokowi untuk tetap berdiri di atas elektabilitas sebagai petahana akan membawanya meraih kekuasaan untuk kedua kalinya.

Tentu, waktu tiga bulan ke depan akan menjadi sirkuit dan lap terakhir bagi kedua kubu untuk benar-benar menguatkan kualitas pilihan dari pemilihnya. Nah, debat pasangan calon presiden dan wakil presiden akan menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kualitas pilihan tersebut. Jadi, mari kita ikuti debat dulu, terutama bagi pemilih yang belum menentukan pilihan, agar debat bisa membantu memudahkan pemilih memutuskan kepada siapa suara diberikan di bilik suara nanti.

Yohan Wahyu

Post Author: redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *