Catatan Khusus

Poligami Politik PSI

Poligami kini tengah masuk dalam diskursus publik. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuka pintu bagi publik untuk kembali memperbincangkan poligami ini.

Partai pendatang baru yang dalam survei-survei berpeluang tipis lolos ambang batas parlemen ini terang-terangkan menolak poligami. Sikap partai pimpinan mantan jurnalis TV Grace Natalie ini memicu emosi publik, terutama di kalangan umat Islam.

Apalagi pidato Grace Natalie yang menyinggung soal poligami ini juga dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan kader atau caleg PSI dengan membawa isu yang sama.

Reaksi keras tak hanya datang dari publik, bahkan salah satu pengurus PSI di Aceh, misalnya, terang terangan mengundurkan diri dari partai ini. Reaksi paling terlihat datang dari para tokoh-tokoh Islam, tak terkecuali para dai-dai muda yang kini tengah digandruingi anak-anak muda. Sebut saja Felix Siauw, Oemar Mita, dan Hilmi Firdausi, serta nama-nama lain.

Pesan mereka sama, poligami adalah syariat Islam yang diyakini kebenarannya oleh umat Islam. Jika ada yang salah dengan praktik poligami, jangan salahkan syariatnya, tapi pelaku poligaminya. Begitu secara singkat pesan yang mereka sebar untuk menanggapi penolakan PSI.

Sikap PSI ini secara marketing politik cukup jeli karena mereka sukses menaikkan awareness partai. Setidaknya di media sosial PSI tengah diperbincangkan gara-gara membawa isu poligami.

Tentu, isu ini bukan yang pertama bagi PSI. Sebelumnya, isu perda syariah juga dibawa partai ini dengan pesan yang jelas : menolak perda syariah! Partai inipun, dibandingkan tiga partai baru lainnya, relatif paling tinggi popularitasnya.

Lalu apakah awareness ini akan mampu mendorong elektabilitas PSI? Masih jauh rasanya, bahkan cenderung menggerus suara partai. Mengapa? Ada kontradiksi yang sebenarnya terjadi dengan langkah-langkah PSI sejauh ini.

Pertama, PSI pernah mendeklarasikan diri sebagai partai yang menjunjung tinggi toleransi dan kebhinekaan. Faktanya PSI malah cenderung menafikkan kelompok-kelompok keagamaan yang sebenarnya juga menjadi bagian dari kebhinekaan itu sendiri.

Kedua, PSI menjadi partai yang menolak politisasi agama. Namun, anehnya belakangan justru PSI membawa-bawa konten ajaran agama dalam wacana politik mereka. Penolakan perda syariah, bahkan perda injil dan tentu penolakan pada poligami adalah pilihan wacana yang malah membawa agama dalam diskursus politik.

Ketiga, selama ini dicitrakan sebagai partai dengan semangat baru, tidak punya hubungan dengan masa lalu, bahkan pengurusnya belum pernah aktif di partai politik. Tidak itu saja, dalam rekruitmen calon legislatif, PSI menggunakan pendekatan seleksi keta dengan melibatkan tokoh-tokoh berintegritas dalam proses seleksinya. Namun, faktanya dengan membawa-bawa isu agama PSI justru memainkan pola lama dalam berpolitik. Tak ada sesuatu yang baru!

Apalagi dalam isu poligami, PSI tengah mendegradasi dirinya. Partai yang semestinya mengurusi urusan publik, malah mencampuri urusan privat dengan mengusung isu poligami.

PSI tengah melakukan “poligami” dengan menduakan urusan publik dan terlalu sibuk mengurusi isu privat. Pertanyaannya kemudian, sudah bisa adil kah PSI sampai berani mengurusi poligami? End

*Abu Janitra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top