Infografik

Mengenal Bahaya Dekompresi pada Penyelam

Dekompresi

Ngompol – Syachrul Anto (48) merupakan relawan penyelam dalam pencarian pesawat Lion Air JT-610. Syahchrul Anto menghembuskan nafas terakhir dalam kecelakaan menyelam saat bertugas mengevakuasi penumpang di perairan Karawang. Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Laut Isswarto menjelaskan penyebab kematian Syachrul karena dekompresi.

Dekompresi merupakan momok bagi para penyelam. Saat operasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 pada Desember 2014, seluruh tim SAR dari TNI AL sempat ditarik. Penyebabnya karena 19 dari 81 penyelam TNI AL mengalami dekompresi.

Dekompresi menjadi salah satu risiko yang mengintai para penyelam. Antara lain, di Honduras, dari 1970-an sampai 2013 diperkirakan ada lebih dari 2.000 penyelam terluka, dan 300 di antaranya meninggal sebagai akibat dari penyelaman yang tidak aman, dan menyebabkan dekompresi.

Mengapa Dekompresi?

Ada banyak jenis penyelaman berdasarkan alat dan tujuannya. Mulai dari yang tidak menggunakan alat suplai udara seperti snorkling dan free diving, atau scuba (Self Contained Underwater Breathing Apparatus) diving yang menggunakan tabung udara.

Penyelaman skuba dipakai untuk banyak tujuan, seperti membetulkan konstruksi di dalam laut, kepentingan penelitian ilmiah, komersil, misi penyelamatan dan lainnya. Ketika melakukan penyelaman skuba, tabung udara berisi oksigen yang dibawa para penyelam umumnya punya komposisi yang sama dengan udara yang dihirup di permukaan, yaitu 79 persen nitrogen dan 21 persen oksigen.

Di permukaan, gas nitrogen yang kerap terhirup oleh manusia tak punya efek khusus ke tubuh dan bisa terbuang langsung dalam sistem pernapasan. Namun, dalam keadaan penyelaman, seiring dengan tekanan air yang makin dalam makin kuat, nitrogen akan bereaksi memengaruhi kesadaran penyelam atau disebut dengan efek nitrogen narkosis. Selain itu, bisa menyebabkan penyakit dekompresi ketika penyelam kembali ke permukaan.

Dekompresi saat penyelaman skuba terjadi karena tubuh mendapat perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat. Ini membuat nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ yang kemudian menimbulkan dekompresi.

Dekompresi bisa beragam dan bertingkat, dari hanya kesemutan, pusing, nyeri sendi, vertigo, sesak napas sampai yang parah seperti perubahan perilaku, amnesia, pingsan, menderita kelumpuhan hingga kematian.

Untuk mengatasinya, perlu penanganan tepat. Misalnya dengan mematuhi aturan batas lama waktu menyelam dengan kedalaman tertentu. Kemudian dari kedalaman tertentu tidak diperkenankan langsung meluncur naik ke atas permukaan air laut. Perilaku seperti itu dihindari agar tidak terjadi dekompresi pada tubuh penyelam.

#Ngompol

#Dekompresi

#LionAir

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top